Sabtu, 01 September 2012

Penelitian Tindakan Kelas [BAB 3]


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Desain Penelitian
            Penelitian pembelajaran ilmu pengetahuan alam dengan metode karyawisata merupakan penelitian tindakan kelas.  Subiyantoro (2009:19) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan guru sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.
            Pelaksanaan penelitian tindakan kelas mencakup beberapa siklus.  Setiap siklus terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan reflaksi.  Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada bagan berikut.

1.      Oval:  Siklus IIOval:  Siklus IPerencanaan                                         1.  Perencanaan

4. Refleksi                              2. Tindakan     4. Reflaksi                              2. Tindakan

                    3.Observasi                                                  3. Observasi

Bagan 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Berdasarkan bagan tersebut, dapat dijelaskan bahwa penelitian ini berlangsung dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II.  Masing-masing siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.  Observasi awal dilakukan sebelum melaksanakan keempat tahap tersebut supaya peneliti dapat mengetahui kondisi siswa selama pembelajaran.  Sebelum siklus I dimulai peneliti melakukan tes awal sebagai nilai awal atau nilai pra siklus untuk dibandingkan dengan nilai siklus I dan siklus II sehingga dapat ditentukan standar ketuntasan pembelajaran ilmu pengetahuan alam.  Adapun uraian dari keempat tahap tersebut adalah sebagai berikut.
1.   Perencanaan (planning)
       Dalam perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut.
a.       Membuat Jadwal
b.      Membuat instrumen penelitian yang berupa  pre tes dan post tes.
c.       Membuat rencana program yang berisi langkah-langkah pembelajaran di kelas maupun diluar kelas.
2.      Pelaksanaan (acting).
Dalam pelaksanaan penelitian ada beberapa langkah yang dilaksanakan sbagai berikut.
a.       Melakukan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah yang sudah direncanakan.
1)      memberikan input melalui penjelasan-penjelasan sesuai tema.
2)      membawa siswa ke luar kelas dan
3)      melakukan aktivitas di luar kelas. Aktivitas ini berupa kunjungan ke sawah dan peternakan penduduk.
b.      Memonitoring kegiatan belajar,
c.       Membantu siswa yang tampak mengalami kesulitan
3.      Pengamatan (Observing).
Hal-hal yang dilakukan selama pengamatan adalah mengamati semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran dan mencatat kejadian-kejadian tersebut dalam lembar pengamatan.
4.      Refleksi (reflecting)
Dalam refleksi ini yang dilakukan adalah :
a.       Mengumpulkan semua data yang diperoleh selama proses belajar mengajar.
b.      Melihat sekilas kejadian-kejadian yang menghambat dan mendiskusikan penyebabnya
c.       Jika dipandang perlu maka merencanakan ulang tindakan perbaikan untuk siklus selanjutnya.
Kegiatan ini dilakukan oleh peneliti dan observer setelah proses belajar mengajar selesai.  Refleksi terhadap proses belajar mengajar yang lebih mendalam dilakukan seminggu sekali oleh peneliti. Tujuannya adalah untuk  mendapatkan umpan balik yang menyeluruh, terutama tentang hambatan dan penyebabnya.  Temuan-temuan yang negatif diupayakan langkah-langkah perbaikan untuk pelaksanaan sikus selanjutnya.

Langkah-langkah konkrit siklus penelitian sebagai berikut.
SIKLUS
TAHAPAN
KEGIATAN
I
Perencanaan
Tanya jawab guru dan siswa tentang materi pelajaran
Penjelasan tentang materi pelajaran.
Guru melaksanakan pembelajaran IPA dengan metode karyawisata
Guru memantau kegiatan siswa
Guru dan siswa memecahkan masalah
Tanya jawab dan mengerjakan soal di lembar kerja siswa
Evaluasi
Tindak lanjut
Tindakan
Melaksanakan proses belajara mengajar IPA dengan metode karyawisata
Pengamatan
Mengamati kegiatan siswa bekerjasama  dengan pengamat dalam proses pembelajaran
Refleksi
Mengevaluasi hasil belajar yang kurang memuaskan
II
Perencanaan


Tanya jawab guru dan siswa tentang materi pelajaran.
Penjelasan tentang materi pelajaran.
Guru melaksanakan pembelajaran IPA dengan metode karyawisata.
Guru memantau kegiatan siswa.
Guru dan siswa memecahkan masalah.
Tanya jawab dan mengerjakan soal di lembar kerja siswa.
Evaluasi.
Tindak lanjut.
Tindakan
Melaksanakan proses belajar mengajar IPA dengan metode karyawisata
Pengamatan
Mengamati dan membandingkan hasil belajar menggunakan metode karyawisata
Refleksi
Mengevaluasi tentang hasil belajar dan merefisi hasil belajar yang kurang memuaskan.

3.2  Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1  Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di  kelas III SLB–C YPAALB Prambanan.
Diambilnya tempat penelitian ini  atas dasar pertimbangan bahwa (1) peneliti adalah guru pada kelas tersebut  (2) nilai Ilmu Pengetahuan Alam pada kelas tersebut  berada di bawah nilai ketuntasan minimal.

3.2.2   Waktu Penelitian
Waktu penelitian perlu ditetapkan untuk mamudahkan dalam pelaksanaan penelitian. Adapun waktu yang akan digunakan untuk mengadakan penelitian adalah sebagai berikut.
a.       Tahap Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian, dilaksanakan pada minggu I II bulan Oktober 2010
b.      Pelaksanan penelitian tindakan, pada minggu III bulan Oktober sampai dengan minggu IV bulan Nopember 2010
c.       Pengumpulan Data, pada minggu I bulan Desember 2010
d.      Pengolahan data, pada minggu II bulan Desember 2010
e.       Pelaporan, pada minggu III Desember 2010.

3.3  Instrumen Pengumpul Data
Instrumen adalah alat bantu yang dapat memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen yang berupa tes dan nontes. Instrumen tes digunakan untuk mengungkapkan data tentang peningkatan keterampilan belajar ilmu pengetahuan alam. Sementara itu, instrumen nontes digunakan untuk mengungkapkan perubahan tingkah laku siswa.  Instrumen nontes yang dimaksud berupa pedoman deskripsi perilaku ekologis dan dokumentasi foto.  Kedua jenis instrumen tersebut dijabarkan dalam penjelasan berikut.


3.3.1 Instrumen Tes
Tes dilakukan untuk memperoleh data tentang keterampilan siswa dalam belajar ilmu pengetahuan alam melalui metode karya wisata.  Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu tes pada siklus I dan siklus II. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes lisan yang berbentuk pilihan ganda. Pelaksanaan tes memerlukan instrumen atau alat bantu yang berupa kriteria atau pedoman penilaian. Penilaian tes harus menunjukkan ketercapaian indikator yang telah ditentukan.
3.3.2  Instrumen nontes
Instrumen nontes terdiri atas pedoman deskripsi perilaku ekologis, dan pedoman dokumentasi foto. Kedua jenis instrumen atau alat bantu tersebut diuraikan sebagai berikut.
3.3.2.1 Pedoman Deskripsi Perilaku Ekologis

Deskripsi perilaku ekologis digunakan untuk mengetahui perilaku-perilaku siswa pada saat proses pembelajaran dengan menggunakan metode karya wisata pada mata pelajaran  ilmu pengetahuan alam, yang berlangsung pada siklus I dan siklus II. Hasil pengamatan tersebut dijabarkan dalam bentuk deskripsi. Sasaran deskripsi perilaku ekologis meliputi beberapa sikap positif, yaitu (1) kesiapan siswa dalam pembelajaran, (2) perhatian siswa terhadap penjelasan guru, (3) keaktifan siswa dalam kegiatan tanya jawab dengan guru, dan (4)  antusiasme siswa terhadap tugas yang diberikan guru.

3.3.2.6  Pedoman Dokumentasi Foto
Dokumentasi foto digunakan sebagai bukti hasil penelitian yang berupa gambar. Gambar yang diabadikan melalui dokumentasi foto ini berisi peristiwa dan momentum yang menggambarkan perilaku dan aktivitas yang dilakukan siswa bersama peneliti selama proses pembelajaran berlangsung. Foto yang diambil pada saat proses pembelajaran berlangsung merupakan sumber data yang dapat memperjelas data yang lain. Hasil dokumentasi dari siklus I dan siklus II dibandingkan untuk melihat gambaran perilaku siswa beserta perubahannya.
Aspek-aspek yang didokumentasikan meliputi (1) aktivitas siswa pada awal pembelajaran dan pada saat menerima penjelasan guru, (2) aktivitas siswa pada saat berada di tempat belajar.

3.4  Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah suatu prosedur yang sistematik dan standart untuk memperoleh data yang diperlukan Nazir (1988:211).   Pengumpulan data yang tepat sangat bergantung pada kemampuan memilih teknik serta alat pengumpul data yang relevan.  Dengan teknik dan alat pengumpul data yang tepat dan relevan dalam suatu penelitian maka akan memungkinkan dicapainya pemecahan masalah secara valid dan reliabel.   Untuk memudahkan pengumpulan data dalam penelitian ini peneliti menggunakan kolaborasi antara observasi, dokumentasi, tes dan  non tes.

3.4.1 Teknik Tes
Teknik tes dilakukan untuk memperoleh data nilai prestasi mata pelajaran ilmu pengetahuan alam melalui pembelajaran menggunakan metode karyawisata.  Tes dilaksanakan dalam bentuk tes obyektif.  Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II.  Hasil tes digunakan untuk mengukur ketercapaian dan peningkatan indikator pembelajaran IPA.  Pada penelitian ini, prestasi pembelajaran ilmu pengetahuan alam siswa dikatakan berhasil apabila sudah mencapai standar yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Desain tes tertulis dari penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut.
Text Box: POST TES 
(T2)Text Box: SIKLUS  
(X)Text Box: PRE TES 
(T1)        


Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut.
1.      Mengadakan pretest (T1) yaitu tes untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum penggunaan metode karyawisata dalam pembelajaran IPA dengan tes obyektif
2.      Melaksanakan kegiatan belajar mengajar IPA dengan menggunakan metode karyawisata.
3.      Mengadakan post test (T2) yaitu tes yang dilakukan setelah penggunaan metode karyawisata dalam pembelajaran IPA.

3.4.2 Teknik Nontes
Teknik nontes digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat abstrak, yaitu perubahan-perubahan sikap dan perilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran ilmu pengetahuan alam.  Teknik nontes dalam penelitian ini diterapkan melalui deskripsi perilaku ekologis, dan dokumentasi foto.

3.4.2.1 Deskripsi Perilaku Ekologis
Pada penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan teknik deskripsi perilaku ekologis  untuk menggambarkan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung.  Deskripsi perilaku ekologis dilakukan oleh peneliti selama siklus I dan siklus II.  Teknik ini dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung. Peneliti mengamati perilaku yang dilakukan siswa dan mencatat semua kejadian yang muncul pada saat pembelajaran,  kemudian dianalisis dan dideskripsikan dalam bentuk uraian kalimat sesuai dengan perilaku nyata yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran.

3.4.2.2  Dokumentasi Foto
Peneliti menggunakan dokumentasi sebagai salah satu teknik untuk memperoleh data nontes yang berupa foto atau gambar.  Dokumentasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung, sehingga aktivitas siswa maupun peneliti selama pembelajaran ilmu pengetahuan alam dengan metode karyawisata akan terekam dalam foto. Dokumentasi foto dilakukan sebagai bukti visual kegiatan pembelajaran selama penelitian berlangsung.
Foto yang diambil pada saat proses pembelajaran berlangsung merupakan sumber data yang dapat memperjelas data yang lain.
                                                                                                               
3.5  Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi dianalisis secara diskriptif artinya gambaran proses belajar mengajar diungkapkan dengan kata-kata. Data yang diambil dari tes akan diolah secara kuantitatif yaitu gambaran kemajuan belajar dengan mencari rata-rata nilai, akhirnya dapat diketahui kemajuan hasil belajar siswa dari tiap siklusnya.  Data utama adalah data verbal dari peneliti, yakni berupa diskripsi proses dan hasil belajar siswa.  Data penunjang adalah data hasil observasi.  Analisis data disini adalah membandingkan hasil pretest (T1)  dan post test (T2)  untuk mengetahui peningkatan terhadap hasil penggunaan metode karyawisata setelah dilakukan siklus. 
Analisis kualitatif dilakukan untuk menganalisis data nontes berdasarkan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Data kualitatif diperoleh melalui hasil deskripsi perilaku ekologis, dan dokumentasi foto. Hasil analisis data kualitatif digunakan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa yang mencakup lima karakter positif siswa, yaitu keaktifan, kedisiplinan, kejujuran, kepercayaan diri, dan kemampuan bekerja sama setelah melaksanakan pembelajaran ilmu pengetahuan alam melalui metode karyawisata pada siklus I dan siklus II.

3.6  Indikator Keberhasilan
Indikator merupakan tolok ukur kinerja penelitian yang dilakukan, sebagai acuan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian.  Penggunaan  metode pembelajaran karyawisata untuk meningkatkan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam anak tunagrahita kelas III di SLB – C YPAALB Prambanan, Klaten tahun 2010/1011 dikatakan berhasil jika siswa dapat mengerjakan soal post test yang diberikan dengan tingkat keberhasilan rata-rata 70.

Penelitian Tindakan Kelas [BAB 2]


BAB II
LANDASAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR
DAN HIPOTESIS TINDAKAN

2.1  Landasan Teoretis
            Teoro-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah hakikat anak tuna grahita, pembelajaran IPA, metode karyawisata, prestasi belajar, serta keterkaitan metode karyawisata dengan peningkatan prestasi belajar IPA
2.1.1    Hakikat tentang Anak Tunagrahita
            Berikut ini akan dipaparkan pengertian anak tunagrahita, karakteristik anak tuna grahita, faktor-faktor penyebab anak tunagrahita, masalah yang dihadapi anak tuna grahita.
2.1.1.1  Pengertian Anak Tunagrahita
Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rerata normal.  Menurut Choiri dan Karsidi (1999:47),  ”Anak tunagrahita adalah anak di mana perkembangan mental tidak berlangsung secara normal, sehingga sebagai akibatnya terdapat ketidakmampuan dalam bidang intelektual, kemauan, rasa, penyesuaian sosial dan sebagainya”.
Anak tunagrahita juga dikenal dengan istilah terbelakang mental.  Karena keterbatasan kecerdasannya anak terbelakang mental sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klasikal. Oleh sebab itu mereka membutuhkan layanan pendidikan khusus.
Hal ini seperti diungkapkan Munzayanah (2000:14), bahwa ”Anak cacat mental atau anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan daya pikir serta seluruh kepribadiannya sehingga mereka tidak mampu hidup dengan kekuatan sendiri di dalam masyarakat meskipun dengan cara hidup yang sederhana”.

2.1.1.2  Karakteristik Anak Tunagrahita
             Karakteristik anak tunagrahita adalah sesuatu hal yang nampak dan sering terjadi pada individu yang mengalami ketunagrahitaan.
Menurut Munzayanah (2000:24) karakteristik anak tunagrahita adalah
1)      mengalami kelainan atau kelambatan dalam bicara sehingga sulit untuk diajak berkomunikasi
2)      mengalami gangguan dalam sosialisasi
3)      mempunyai kemampuan yang terbatas di bidang intelektual, sehingga hanya mampu dididik untuk membaca, menulis dan menghitung pada batas-batas tertentu, bagi tunagrahita yang tergolong ringan dapat dilatih untuk ketrampilan-ketrampilan yang ringan.

Karakteristik anak tunagrahita menurut Astati, (2001:5-7) adalah sebagai berikut.
1)      Ciri fisik dan motorik
Ketrampilan motorik anak tunagrahita ringan lebih rendah dari anak normal, sedangkan tinggi dan berat badan adalah sama
2)      Bahasa dan penggunannya
Anak tunagrahita ringan banyak yang lancar berbahasa tetapi kurang dalam perbendaharaan kata serta kurang mampu menarik kesimpulan mengenai apa yang dibicarakan
3)      Kecerdasan
Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam berpikir abstrak, tetapi masih mampu mempelajari hal-hal yang bersifat akademik walaupun terbatas.  Sebagian dari mereka mencapai usia kecerdasan yang sama dengan anak normal usia 12 tahun ketika  mencapai usia dewasa.

4)      Sosial
Anak tunagrahita cenderung menarik diri, acuh tak acuh, mudah bingung. Mereka cenderung bergaul dengan anak normal yang lebih muda dari usianya.
5)      Kepribadian
Ciri-ciri pribadi anak tunagrahita ringan antara lain kurang percaya diri, merasa rendah diri dan mudah frustasi
6)      Pekerjaan
Anak tuna grahita ringan dapat melakukan pekerjaan yang sifatnya semi-skilled dan pekerjaan itu sifatnya sederhana.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik anak tunagrahita secara umum adalah mempunyai kemampuan yang sangat terbatas dalam bidang intelektual, sosialisasi, komunikasi, perkembangan emosi, dan kecakapan motorik. 

2.1.1.3 Masalah pada Anak Tunagrahita
            Masalah-masalah yang dihadapi anak tunagrahita menurut Astati (2001: 10-11), di antaranya adalah sebagai berikut.
1)      Masalah penyesuaian diri
Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam mengartikan norma-norma lingkungan sehingga mereka tidak dapat melakukan fungsinya sebagai anggota masyarakat. Akhirnya, tidak jarang dari mereka diisolasi dan dianggap hanya beban orang lain.
2)      Masalah pemeliharaan diri
Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam membina dirinya, misalnya dalam mengadakan orientasi, pemeliharaan dan penggunaan fasilitas di lingkungannya serta  bagaimana kepantasan penampilannya.
3)      Masalah kesulitan belajar
Kesulitan belajar umumnya tampak dalam bidang pelajaran yang sifatnya akademis dan mengandung hal-hal yang sifatnya abstrak
4)      Masalah pekerjaan
Kenyataan menunjukkan banyaknya populasi penyandang tunagrahita ringan pasca sekolah yang tidak memperoleh kesempatan bekerja karena dinilai kemampuan kerja mereka sangat rendah. Hal ini diperkirakan penyebabnya antara lain kurangnya kesesuaian antara ketrampilan yang dimiliki dan perilaku vokasional (daya tahan, minat, kegembiraan, komunikasi, penampilan dan lain-lain) dengan tuntutan lapangan pekerjaan.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi anak tunagrahita  meliputi dari masalah penyesuaian diri, pemeliharaan diri, kesulitan belajar serta masalah pekerjaan.  

2.1.2  Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Webster’s dalam New Collegiate Dictionary, dikutip dari Iskandar (2002:2) mengatakan “Natural science is knowledge concerned with the physical word and it’s phenomena”.  Artinya, ilmu pengetahuan alam adalah pengetahuan tentang alam dan gejala-gejalanya”.  Menurut Nash yang dikutip Darmodjo, Kaligis (1991:3) mengemukakan bahwa “Ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu cara atau metode untuk mengamati alam dunia ini besifat analitis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena yang lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang diamati itu”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam melalui metode pengamatan yang bersifat analitis, lengkap, cermat, membentuk perspektif baru tentang objek yang diamati.
Anak tunagrahita sangat  memerlukan pelajaran IPA agar dapat memahami tentang berbagai jenis lingkungan alami dan lingkungan buatan yang berkaitan dengan pemanfaatan bagi kehidupannya sehari-hari.  Lingkungan alam  merupakan lingkungan alamiah yang terjadi secara alami.  Yang paling penting dalam hal ini ialah komponen yang membangun alam sehingga anak tunagrahita memiliki prinsip-prinsip bertindak terhadap alam agar dapat tetap memberikan dukungan hidup manusia. 

2.1.3    Hakikat Metode Karya Wisata
Menurut Sudjana (2008:87) menyebutkan bahwa ”Metode Karya Wisata adalah kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar”.  Menurut Roestiyah (2001:85)  menyebutkan bahwa Metode karya wisata ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu”
Dari kedua pendapat tersebut peneliti menyimpulkan bahwa metode karyawisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang dan dilaksanakan diluar kelas untuk mempelajari objek tertentu atau menyelidiki sesuatu.
Metode karyawisata merupakan metode yang sangat relevan terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam karena metode ini akan membawa anak langsung kepada obyek belajar.  Menurut Roestiyah (2001:85) teknik karyawisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut.
Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. Juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.

Menurut Suhardjono (2004:85) mengungkapkan bahwa metode karyawisata (field-trip) memiliki keuntungan.
1)      memberikan informasi teknis, kepada peserta secara langsung
2)      memberikan kesempatan untuk melihat kegiatan dan praktik dalam kenyataan atau pelaksanaan yang sebenarnya,
3)      memberikan kesempatan untuk lebih menghayati apa yang dipelajari sehingga lebih berhasil
4)      memberi kesempatan peserta melihat objek belajar secara langsung

Dengan berbagai keunggulan dan keuntungan yang ada pada metode karyawisata ini, maka perlu langkah-langkah strategis agar penggunaan metode ini dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  dapat efektif dan efisien.   Menurut Sudjana (2008 : 87) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam penerapan metode karya wisata adalah sebagai berikut.
1)  Perencanaan Karyawisata
a.  merumuskan tujuan karyawisata
b.   menetapkan obyek sesuai  tujuan yang hendak dicapai
c.   menyusun rencana belajar bagi siswa selama karyawisata
d.   merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan
2)   Langkah Pelaksanaan
Dalam fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat karyawisata dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan
1)      Tindak Lanjut
Pada akhir karyawisata siswa harus diminta laporannya baik lisan maupun tertulis, yang merupakan inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata



2.1.4  Hakikat Prestasi Belajar
Menurut Tirtonegoro (1987:64), mengemukakan “Prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu”.  Menurut Sukardi (1990:30) “Prestasi belajar adalah suatu hasil maksimal yang diperoleh seseorang dalam usahanya dalam rangka mengaktualitaskan dan mempotensikan diri lewat belajar”.  Menurut Slameto (1993:17) ”Prestasi belajar adalah sejauh mana tingkat pengetahuan anak terhadap materi yang diterima”.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh seorang siswa dari usaha kegiatan belajar dalam rangka mengaktualisasikan dan mempotensikan dirinya yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, simbol atau kalimat dalam periode tertentu.
Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari diri siswa maupun dari luar siswa.   Faktor internal di antaranya adalah minat, bakat,  motivasi dan  tingkat intelegensi.   Faktor eksternal berasal dari keluarga, sekolah, dan  masyarakat.
Keluarga mempunyai peranan dalam meningkatkan prestasi belajar.  Orang tua harus mempunyai perhatian terhadap anak dalam hal belajar, sehingga prestasi anak dapat dioptimalkan.
Faktor  sekolah  merupakan faktor yang utama dalam meningkatkan prestasi belajar anak.  Faktor metode pembelajaran merupakan unsur penting dalam meningkatkan prestasi siswa.  Dengan metode karya wisata diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar IPA..
Faktor lingkungan masyarakat juga berperan dalam meningkatkan prestasi belajar.  Dengan bersosialisasi dengan teman sebayanya akan mengembangkan daya kreatifitasnya sehingga prestasi belajarnya dapat meningkat

2.1.5    Penggunaan Metode Karyawisata untuk Peningkatan Prestasi Belajar IPA Anak Tunagrahita
            Amin (1995:116) menyatakan bahwa Anak tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya jelas di bawah rata-rata.  Di samping itu mereka mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. mereka kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak, yang sulit-sulit dan yang berbelit-belit.  Mereka kurang atau terbelakang atau tidak berhasil bukan sehari dua hari atau sebulan dua bulan, tetapi untuk selamanya, dan bukan hanya dalam satu dua hal tetapi hampir segala-galanya, lebih-lebih dalam pelajaran, seperti mengarang, menyimpulkan isi bacaan, menggunakan simbol-simbol, berhitung dan dalam semua pelajaran yang bersifat teoritis.  Dan juga mereka kurang atau terhambat dalam penyesuaian diri dengan lingkungan.

Keterbatasan intelektual yang dialami anak tunagrahita menyebabkan kesulitan dalam berpikir secara abstrak, sulit, dan berbeli-belit.  Hal ini sangat terasa pada pelajaran yang bersifat teoritis, seperti halnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.  Oleh sebab itu penggunaan metode karyawisata akan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam anak tunagrahita.
Orientasi penggunaan metode karyawisata adalah membawa anak tuna grahita belajar di alam terbuka dengan suasana yang menyenangkan serta berhadapan dengan objek benda asli sehingga pelajaran IPA yang bersifat teori akan dibuktikan oleh anak tuna grahita melalui obyek yang sesungguhnya.  Dengan demikian, prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alamnya akan dapat ditingkatkan sesuai dengan kapasitas dan pola pikir yang dimiliki anak tuna grahita. 

2.2  Kerangka Berpikir
            Kerangka berpikir merupakan arah penalaran untuk dapat memperoleh jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan agar mempermudah dalam pengembangannya.  Secara skematis penggunaan metode karyawisata terhadap peningkatkan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam anak tunagrahita dapat digambarkan sebagai berikut.
Untuk itu, peneliti mengemukakan kerangka pemikiran sebagai berikut.
1)      Anak tuna grahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan intelektualnya, hal ini akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya di sekolah.
2)      Pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi anak tuna grahita diperlukan metode mengajar yang tepat dan menyenangkan karena penggunaan metode mengajar yang tidak tepat akan menyebabkan anak tuna grahita jenuh sehingga mengakibatkan prestasi belajarnya akan semakin rendah
3)      Metode Karya wisata merupakan metode mengajar yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar anak tuna grahita khususnya pada pembelajaran  Ilmu Pengetahuan Alam.

2.3   Hipotesa Tindakan
                        Hipotesa merupakan jawaban sementara atas masalah yang diteliti dan dibuktikan kebenarannya.  Berdasarkan kerangka pikir yang peneliti kemukakan diatas hipotesis yang peneliti ajukan adalah metode karyawisata dapat meningkatkan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam anak tunagrahita kelas III SLB–C YPAALB Prambanan, Klaten Tahun 2010/2011